Rabu, 23 Maret 2016

Adat Istiadat Maluku dan ciri khasnya

BUDAYA, CIRI KHAS dan MAKANAN KHAS AMBON, MALUKU

 

 

Budaya Maluku adalah aspek kehidupan yang mencakup adat istiadat, kepercayaan, seni dan kebiasaan lainnya yang dijalani dan diberlakukan oleh masyarakat Maluku. Maluku adalah sekelompok pulau yang merupakan bagian dari Nusantara. Maluku berbatasan dengan Timor di sebelah selatan, pulau Sulawesi di sebelah barat, Irian Jaya di sebelah timur dan Palau di timur laut. Maluku memiliki beragam budaya dan adat istiadat mulai dari alat musik, bahasa, tarian, hingga seni budaya.

Budaya Kalwedo

Salah satu dari banyaknya budaya Maluku adalah Kalwedo. Kalwedo adalah bukti yang sah atas kepemilikan masyarakat adat di Maluku Barat Daya (MBD).  Kepemilikan ini merupakan kepemilikan bersama atas kehidupan bersama orang bersaudara. Kalwedo telah mengakar dalam kehidupan baik budaya maupun bahasa masyarakat adat di kepulauan Babar dan MBD. Pewarisan budaya Kalwedo dilakukan dalam bentuk permainan bahasa, lakon sehari-hari, adat istiadat, dan pewacanaan.

Nilai Adat Kalwedo

Kalwedo merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial keseharian, dan juga nilai-nilai religius yang sakral yang menjamin keselamatan abadi, kedamaian, dan kebahagiaan hidup bersama sebagai orang bersaudara. Budaya Kalwedo mempersatukan masyarakat di kepulauan Babar maupun di Maluku Barat Daya dalam sebuah kekerabatan adat, dimana mempersatukan masyarakat menjadi rumah doa dan istana adat milik bersama. Nilai Kalwedo diimplementasikan dalam sapaan adat kekeluargaan lintas pulau dan negeri, yaitu: inanara ama yali (saudara perempuan dan laki-laki). Inanara ama yali menggambarkan keutamaan hidup dan pusaka kemanusiaan hidup masyarakat MBD, yang meliputi totalitas hati, jiwa, pikiran dan perilaku.
Nilai-nilai Kalwedo tersebut mengikat tali persaudaraan masyarakat melalui tradisi hidup Niolilieta/hiolilieta/siolilieta (hidup berdampingan dengan baik). Tradisi hidup masyarakat MBD dibentuk untuk saling berbagi dan saling membantu dalam hal potensi alam, sosial, budaya, dan ekonomi yang diwariskan oleh alam kepulauan MBD.

Budaya Hawear

Sasi (Hawear) di Kepulauan Kei
Hawear (Sasi) adalah budaya yang tumbuh dan berlaku dalam kehidupan masyarakat Kepulauan Kei secara turun menurun. Cerita rakyat, lagu rakyat, dan berbagai dokumen tertulis merupakan prasarana untuk melestarikan kekayaan budaya termasuk Hawear.  Sejarah Hawear bermula dari seorang gadis yang diberikan daun kelapa kuning (janur kuning) oleh ayahnya. Kemudian janur kuning itu disisipkan atau diikat di kain seloi yang dipakainya. Gadis tersebut melakukan perjalanan panjang untuk menemui seorang raja (Raja Ahar Danar). Maksud dari janur kuning tersebut sebagai tanda bahwa ia telah dimiliki oleh seseorang, dimaksudkan agar ia tidak diganggu oleh siapapun selama perjalanan.  Janur kuning tersebut diberikan oleh sang ayah, karena sang ayah pernah diganggu oleh orang-orang tak dikenal dalam perjalanannya. Hal ini adalah proses Hawear yang masih dijalankan sesuai dengan maknanya hingga saat ini.

Batu Pamali

Contoh: Batu Pamali Negeri Saparua
Batu Pamali adalah simbol material adat masyarakat Maluku. Selain Baileo, rumah tua, dan teung soa, batu Pamali juga termasuk mikrosmos dalam negeri-negeri yang ditempati masyarakat adat Maluku.Batu Pamali merupakan batu alas atau batu dasar berdirinya sebuah negeri adat yang selalu diletakkan di samping rumah Baileo, sekaligus sebagai representasi kehadiran leluhur (Tete Nene Moyang) di dalam kehidupan masyarakat. Batu Pamali sebagai bentuk penyatuan soa-soa dalam negeri adat, dengan demikian batu Pamali adalah milik bersama setiap soa. Di beberapa negeri adat Maluku, batu Pamali dimiliki secara kolektif, termasuk negeri adat yang masyarakatnya memeluk agama yang berbeda. Seiring dengan perkembangan agama di masyarakat, terjadi pergeseran praktik ritus dan keberadaan batu Pamali. Dengan adanya UU No. tahun 1979, adat asli negeri-negeri diganti dengan penyeragaman sistem pemerintahan desa.

Upacara Fangnea Kidabela

Kepulauan Tanimbar yang sekarang menjadi Kabupaten Maluku Tenggara Barat, memiliki kebudayaan yang mengatur persaudaraan dan kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk Duan Lolat dan Kidabela. Duan Lolat mengatur tentang hubungan sosial masyarakat yang luas, yaitu memperkuat hubungan antardua desa atau lebih, dan hubungan tersebut diwujudkan dalam bentuk Kidabela. Upacara Fangnea Kidabela memperkokoh hubungan sosial masyarakat Tanimbar dalam wadah persaudaraan dan persekutuan agar tidak mudah pecah atau retak.

Makna Upacara Fangnea Kidabela

Upacara Fangnea Kidabela mengandung makna persatuan dan kesatuan hidup masyarakat Tanimbar baik internal maupun eksternal dalam setiap situasi. Upacara Fangnea Kidabela juga mengandung makna sebagai pemanasan, pengerasan, dan pemantapan (fangnea) terhadap persahabatan, persaudaraan (itawatan) dan keakraban (kidabela) di antara sesama sebagai suatu persekutuan wilayah teritorial Kampung Sulung di pulau Enus yang terletak di Selaru bagian selatan pulau Yamdena. Makna upacara Frangnea Kidabela sama dengan upacara Panas Pela di Ambon, Lease, dan Maluku Tengah. Upacara ini menciptakan suasana hidup bermasyarakat yang kokoh dan kuat untuk mencegah fenomena konflik dan perpecahan terhadap hubungan masyarakat.

Hibua Lamo

Hibua Lamo adalah rumah besar yang dijadikan simbol masyarakat adat di Halmahera Utara, sekaligus simbol Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Di Halmahera Utara terdapat tiga etnis masyarakat yang memiliki rumah adat masing-masing, misalnya rumah adat etnis Tobelo disebut Halu. Namun Hibua Lamo yang menjadi pemersatu semua etnis. Hibua Lamo adalah konstruksi dari nilai-nilai hidup dalam masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai komunitas Hibua Lamo. Hibua Lamo merupakan konsep bersama yang disebut Nanga Tau Mahirete (rumah kita bersama). Orang Tobelo, Galela dan Loloda tersegregasi secara geografis, dan terbelenggu dalam tradisi, agama dan kepercayaan yang berbeda. Perbedaan tersebut dipahami dan dihayati dengan kesucian hati dan kemurnian pikiran, kemudian diterapkan dalam sebuah ungkapan filosofis Ngone O’Ria Dodoto yang bermakna satu ibu satu kandung. Konsekuensi dari falsafah Nanga Tau Mahurete dan Ngone O’Ria Dodoto adalah lahirnya sebuah komunitas asli Halmahera Utara daratan maupun kepulauan dalam satu kesatuan yang teridentifikasi sebagai komunitas Hibua Lamo dan kemudian disimbolkan dalam rumah adat Himua Lamo.
Dalam konteks ini komunitas Tobelo, Galela, dan Loloda mengalami proses penyatuan dalam satu sosiokultural baru yang dinamis. Sosiokultural ini berlandaskan pada nilai-nilai O’dora (saling kasih), O’hanyangi (saling sayang), O’baliara (saling peduli), O’adili (perikeadilan) dan O’diai (kebenaran) dalam bingkai Nanga Tau Mahurete dan Ngone O’Ria Dodoto.

Budaya Arumbae

Lomba Arumbae Manggurebe
Arumbae adalah bentukan karakter masyarakat Maluku, baik yang tinggal di pesisir maupun di pegunungan. Arumbae adalah kebudayaan berlayar dalam masyarakat Maluku. Perjuangan melintasi lautan merupakan bagian dari terbentuknya suatu masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat Tanimbar – dalam mitos Barsaidi meyakini bahwa leluhur mereka tiba di pulau Yamdena setelah melewati perjuangan yang sulit di lautan. Perjuangan melintasi lautan merupakan sejarah keluhuran. Kedatangan para leluhur dari pulau Seram, pulau Jawa (seperti Tuban dan Gresik) dan pulau Bali menjadi bagian dari cerita keluhuran masyarakat di Maluku Tengah, Buru, Ambon, Lease, dan Maluku Tenggara. Ragam cerita inilah yang membentuk terjadinya persekutuan Pela Gandong antar negeri. Dalam pataka daerah Maluku, Arumbae menjadi simbol daerah yang di dalamnya terdapat lima orang sedang mendayung menghadapi tantangan lautan. Secara filosofis, maknanya ialah masyarakat Maluku adalah masyarakat yang dinamis, dan penuh daya juang dalam menghadapi tantangan untuk menyongsong masa depan yang gemilang.
Laut adalah medan penuh bahaya dan Arumbae menstrukturkan cara pandang bahwa laut adalah medan kehidupan yang harus dihadapi. [1Itulah sebabnya, masyarakat Maluku melihat laut sebagai jembatan persaudaraan yang menghubungkan satu pulau dengan pulau Berlayar ke suatu pulau, seperti dalam Pela Gandong bertujuan untuk mengeratkan jalinan hidup orang bersaudara sebagai pandangan dunia orang Maluku. Kebiasaan papalele, babalu, maano, dan konsekuensi berlayar ke pulau lain, membuat laut dan arumbae sebagai simbol perjuangan ekonomi.
Arumabe tampak dalam beragam karya seni. Misalnya dalam syair kata tujuh ya nona, ditambah tujuh, sapuluh ampa ya nona dalang parao Banyak gapura negeri adat Maluku berbentuk Arumbae. Lagu daerah banyak mengumpamakan keharmonisan dengan simbol perahu atau Arumbae. Di bidang olahraga, Arumbae Manggurebe menjadi program pariwisata dan olah raga tahunan yang diselenggarakan di Teluk Ambon.

Sasahil dan Nekora

Sasahil dan Nekora merupakan tradisi masyarakat adat di Negeri Siri Sori Islam dan Negeri Siri Sori Kristen di pulau Saparua. Bagi masyarakat desa Telalora, Nekora memiliki basis nilai tolong-menolong antarwarga. Nilai tradisi Sasahil dan Nekora terletak pada cara dan proses pelaksanaan. [10] Nilai tolong-menolong yang terdapat dalam tradisi Sasahil maupun Nekora memiliki basis solidaritas yang kuat, dan menciptakan relasi saling memberi dan menerima antarwarga agar suatu pekerjaan berat untuk mendirikan rumah bisa lebih ringan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan yang terus berubah, tradisi Sasahil dan Nekora selalu dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Hal ini dimaksudkan sebagai modal sosial kelangsungan hidup bermasyarakat di masa mendatang.





Ciri Khas Maluku

Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas dan Molukken adalah provinsi tertua yang ada di Indonesia, lintasan sejarah Maluku telah dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan besar di Timur Tengah seperti kerajaan Mesir yang dipimpin Firaun. Bukti bahwa sejarah Maluku adalah yang tertua di Indonesia adalah catatan tablet tanah liat yang ditemukan di Persia, Mesopotamia, dan Mesir menyebutkan adanya negeri dari timur yang sangat kaya, merupakan tanah surga, dengan hasil alam berupa cengkeh, emas dan mutiara, daerah itu tak lain dan tak bukan adalah tanah Maluku yang memang merupakan sentra penghasil Pala, Fuli, Cengkeh dan Mutiara. Pala dan Fuli dengan mudah didapat dari Banda Kepulauan, Cengkeh dengan mudah ditemui di negeri-negeri di Ambon, Pulau-Pulau Lease (Saparua, Haruku & Nusa laut) dan Nusa Ina serta Mutiara dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar di Kota Dobo, Kepulauan Aru.
Ibu kota Maluku adalah Ambon yang bergelar atau memiliki julukan sebagai Ambon Manise, kota Ambon berdiri di bagian selatan dari Pulau Ambon yaitu di jazirah Leitimur. Ada wacana bahwa Kota Ambon Manise sudah semakin padat, sumpek, dan tidak lagi layak untuk menampung jumlah penduduk yang dari tahun ke tahun meningkat tajam yang merupakan ibu kotapProvinsi akan menjadi kota biasa karena ibu kota direncanakan pindah ke negeri Makariki di Kabupaten Maluku Tengah.
Jumlah penduduk provinsi ini tahun 2010 dalam hasil sensus berjumlah 1.533.506 jiwa. Maluku terletak di Indonesia Bagian Timur. Berbatasan langsung dengan Maluku Utara dan Papua Barat di sebelah utara, Laut Maluku, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara di sebelah barat, Laut Banda, Timor Leste, dan Nusa Tenggara Timur di sebelah selatan serta Laut Aru dan Papua di sebelah timur.
Maluku memiliki 2 agama utama yaitu agama Islam Sunni yang dianut 50,8 % penduduk Maluku dan agama Kristen (baik Protestan maupun Katolik) yang dianut 48,4 % penduduk Maluku.[2] Maluku tercatat dalam ingatan sejarah dunia karena konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara basudara Salam-Sarane atau antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon. Selepas tahun 2002, Maluku berubah wajah menjadi provinsi yang ramah dan damai di Indonesia, untuk itu dunia memberikan suatu tanda penghargaan berupa Gong Perdamaian Dunia yang diletakkan di ACC (Ambon City Centre).
Pada tahun 1999 ketika konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara basudara Salam-Sarane atau antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon melanda Maluku, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibu kota di Sofifi. Namun, karena Kota Sofifi dinilai belum siap menjadi ibu kota maka pusat pemerintahan sementara sampai 2009 berada di Kota Ternate yang berada di Pulau Ternate.
Provinsi Maluku dan Maluku Utara membentuk suatu gugus-gugus kepulauan yang terbesar di Indonesia dikenal dengan Kepulauan Maluku dengan lebih dari 4.000 pulau baik pulau besar maupun kecil.

 

 

 

MAKANAN KHAS

1. SAGU TUMBUH
https://d3j5vwomefv46c.cloudfront.net/photos/large/744538921.jpg?1363269986
Salah satu makanan tradisional yang memiliki keunikan nilai karena bahan dasarnya berasal dari tanaman khasa Maluku Sagu adalah, “SAGU TUMBUH” atau yang biasa dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama “PAUMAUIDO”. Sagu Tumbuh, memiliki citarasa yang sangat tinggi, bahan dasarnya bersumber dari perpaduan antara, Tepung Sagu Kering, Gula Merah dan Kenari. Bahan ini diolah secara tradisional yang dicamur atau ditumbuk dalam lesung yang terbuat dari kayu.
Setalah matang SAGU TUMBUH akan terlihat berwarna Coklat Mangis tercium aroma manis yang harum, karena diolah dengan Buah Kenari, balutan minyak akan terasa jika anda mencicipinya. Dengan nilai tradisonal sagu tumbuh saat ini bisa didapat dengan mudah jika anda mengunjgi negeri tersebut. Para pembuat makan khasa Maluku ini, biasanya menjual Sagu Tumbuh sesuai dengan pesanan. dengan nilai jual yang disesuaikan dengan jumlah pesanan.
Selama ini sagu tumbuh cukup dikenal, beberapa waktu lalu lewat UKM Louhatta, yang sukses mengikuti pameran ditingkat nasional bahkan sampai ke tingkat internasional. Upaya yang dilakukan oleh UKM yang notabene berangotakan kelompok ibu-ibu di negeri Siri Sori Islam ini membuahkan hasil yang cukup baik. Bahkan Orang Nomor Satu di Indonesia, Presiden SBY, pernah memesan Sagu Tumbuh untuk dikemas dan dikirim ke Istana Negara, Saat Raja Kerajaan Belanda mengunjungi Istana Negara beberapa waktu lalu.
2. BAGEA
https://i2.wp.com/ichal.blog.com/files/2013/12/BAGEA.jpg
Salah satu jenis kuliner yang populer menjadi makan khas masyarakat Maluku yang diproduksi di Negeri ini adalag “BAGEA”. Makanan yang bercitarasa, mengandung nilai dan sangat kenyal ini terbuat dari bahan dasar tepung Sagu. Jenis kuliner yang berusia ratusan tahun dan sudah ada sejak jaman kolonial dan higga saat ini masih tetap diproduksi. Kuliner yang sangat bernilai dan masih terpelihara dengan baik dengan citarasa yang sama kerana memiliki nilai hitoris dimasa lalu.
Bagea terdiri Dari Beberapa Jenis Masing Masing :
1. Bagea Kenari
2. Bagea Kelapa
3. Bagea Gula
Adonan dari bahan dasar makanan ini tergantung dari jenis yang di pesan. Untuk Bagea Gula bahan dasarya tepung sagu dicampur dengan Gula Mera, Bagea Kelapa terbuat dari capuran donan kelapa setengah matang, dan tepung sagu, sementara untuk Bagea Kanari, bahan dasarnya berasal dari tepung Sagu dan Buah Kenari.Setalah dicampur sesuai dengan takaran yang pas dan tepat, Bagea yang sudah diolah tersebut kemudian dimasukan ke dalam Poran atau Open yang terbuat dari Tana Liat. Usai melewati proses pembakaran Begea lalu dikeluarkan dan siap dijual seauai dengan nilai pesanan yang ditawrakan.
Bagi anda para pencinta kuliner, sangat tepat jika anda mengunjugi dan menikmati makan khas yang memiliki cita rasa tinggi dan bernilai hitoris di Bumi Rara Raja Maluku, maka tidak salah bila anda mengunjungi Negeri yang berada di semenanjung utara pulau saparua ini, untuk melihat dan menikmati wisata kuliner anda.

Makanan khas Manado Sulawesi Utara

Jika Anda berkunjung ke Manado, selain menikmati wisata alam dan kuliner, jangan lupa untuk membawa pulang oleh-oleh khas Manado untuk kerabat terdekat. Apa saja sih oleh-oleh khas Manado yang terkenal dengan rasa yang lezat? Simak yuk ulasanya berikut ini:

1. Klappertaart

Klappertaart
Klappertaart
Klapertaart adalah kue khas Belanda dengan sentuhan budaya Indonesia. Klappertaart sesungguhnya memiliki arti cake kelapa atau tart kelapa. Klapertaart ini terbuat dari kelapa muda, tepung, gula, susu, margarin, dan air kelapa. Kue ini biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Klapertaart menjadi favorit banyak orang karena rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut.
Klapertaart dapat bertahan hingga 12 jam asalkan dibungkus dalam wadah yang rapat dan disimpan dalam suhu dingin. Tetapi jika Anda berencana untuk membawanya terbang dari Manado ke Jakarta atau kota lainnya kue ini masih bisa bertahan, asalkan ketika sampai di lokasi segera dimasukkan ke lemari es. Harga klapertaart ini berkisar antara 15.000 Rupiah hingga 60.000 Rupiah tergantung dari ukurannya.

2. Halua kenari

Halua kenari
Halua kenari
Halua Kenari adalah kue khas Manado yang dibuat dengan bahan utama kacang kenari. Kacang kanari adalah tumbuhan yang tumbuh subur di Sulawesi Utara. Kacang kenari ini dilapisi oleh gula merah yang telah dilebur. Tidak sulit bagi Anda untuk menemukan camilan favorit masyarakat Manado ini, karena banyak sekali dijual di toko oleh-oleh. Harga yang dipatok untuk makanan ini berkisar antara 10.000 – 45.000 Rupiah tergantung dari ukuran dan berat isinya. Kudapan ini adalah teman yang cocok dinikmati bersama secangkir teh atau kopi.

3. Panada

Panada
Panada
Salah satu makanan yang populer di Manado selain klapertaart adalah panada. Sebetulnya, makanan ini bukanlah khas dari Manado, melainkan makanan peninggalan bangsa Portugis yang datang ke Minahasa beberapa abad yang lalu.
Nama Panada sendiri memiliki makna empanada, yaitu isian makanan berupa ikan yang dibungkus roti.
Kue ini memiliki bentuk seperti pastel, tetapi dengan isi yang berbeda yaitu ikan cakalang dibumbu panpis. Bumbu panpis sendiri merupakan ikan cakalang yang dimasak dengan bawang merah, daun jeruk, kemangi, cabe merah, dan daun bawang. Harga kue ini dibandrol mulai 1.250 Rupiah. Semakin mahal harganya berarti isinya juga semakin banyak.

4. Pala manis

Pala Manis
Pala Manis
Pala manis merupakan kudapan khas Manado yang sudah terkenal hingga negara tetangga, bahkan makanan ini sudah diekspor ke Malaysia. Pala manis Manado memiliki tampilan yang berbeda dibanding manisan pala yang terbuat dari tempat lain. Pala manis Manado terbuat dari buah pala dengan cairan gula sebagai pemanis, sehingga teksturnya mengkilap dan lebih bersih. Di daerah lainnya, manisan pala pada umumnya menggunakan gula pasir.
Harga yang dipatok untuk pala manis ini rata-rata 40.000 Rupiah per bungkusnya. Anda bisa menemukan pala manis ini di berbagai sudut kota Manado, dan juga di counter Bandara Sam Ratulangi Manado atau Pelabuhan Bitung

5. Kacang goyang

Kacang goyang
Kacang goyang
Kacang goyang adalah camilan yang pasti selalu ada di acara hajatan masyarakat Manado. Kacang goyang adalah kacang atom yang berbalut terigu yang kemudian dilumuri gula di lapisan luarnya sehingga memiliki warna yang beragam. Nama kacang goyang sendiri diambil sesuai proses pembuatannya, karena pembuatan kacang ini harus digoyang-goyang.
Ada satu daerah yang terkenal sebagai daerah pembuat kacang goyang di Kotamobagu. Bahan-bahan yang biasanya digunakan untuk membuat kacang ini antara lain coklat van houten, gula putih, dan zat pewarna makanan yang sudah terdaftar aman. Harga kacang ini berkisar antara 10.000 Rupiah sampai 25.000 Rupiah.

6. Dodol amurang

Dodol Amurang
Dodol Amurang
Bukan hanya kota Garut yang terkenal dengan dodolnya, ternyata Manado juga punya dodol khas tersendiri yaitu dodol amurang. Dodol amurang ini banyak diproduksi di Kabupaten Minahasa Selatan. Dodol ini terbuat dari gula aren, beras ketan yang dihaluskan, minyak kelapa murni yang belum disaring untuk diambil santannya, kacang, dan kayu manis.
Setelah semua bahan menjadi satu dan dibungkus dengan daun kelapa, dodol ini dikukus dengan panas 120 derajat. Dodol amurang adalah makanan wajib dalam acara syukuran masyarakat Manado. Harga dodol ini berkisar 500 sampai 5.000 Rupiah tergantung dari ukurannya.

7. Cakalang fufu

Cakalang Fufu
Cakalang Fufu
Pecinta makanan pedas pasti suka dengan cakalang fufu. Makanan khas Manado ini terbuat dari ikan cakalang yang mengalami proses pengasapan. Proses pengasapan di Manado disebut fufu. Itulah kenapa disebut sebagai cakalang fufu. Ikan cakalang ini bisa dijumpai di Pelabuhan Nelayan Belitung.
Banyaknya pasokan ikan membuat warga di daerah pesisir mengawetkan ikan tersebut. Sebelum diasap, terlebih dahulu ikan dibersihkan dan dibuang sisiknya. Kemudian dibelah menjadi dua dan dilumuri bumbu. Proses pengasapan ini sendiri memakan waktu 4 jam. Harga per ikan bervariasi tergantung dari besarnya, biasanya berkisar antara 35.000 sampai 65.000 Rupiah.

8. Sambal roa

Sambal Roa
Sambal Roa
Sambal roa adalah sambal khas dari Manado yang sudah terkenal di seluruh Indonesia dan memiliki banyak penggemar. Sambal roa merupakan sambal yang terbuat dari ikan roa yang telah diasap. Ikan roa yang telah diasap ini dihancurkan hingga halus. Ikan roa yang sudah halus ini kemudian dimasak bersama bumbu dan minyak. Sambal roa ini sangat lezat dinikmati bersama dengan nasi panas.
Di Manado sendiri, sambal roa biasanya dinikmati dengan bubur Manado. Sambal ini bisa bertahan hingga enam bulan jika berada dalam suhu ruangan, dan bisa mencapai satu tahun jika disimpan di dalam kulkas. Harga sambal ini antara 55.000 sampai 65.000 Rupiah.




sekian blog dari Anan semoga bermanfaat:) kalo kalian pada berkunjung ke Manado, jgn lupa beli 8 oleh oleh khas manado nya yaa hehehe